Jumat, 21 Oktober 2016

                                              perbedaan cinta dengan ketertarikan

cinta tidak membutuhkan mata untuk melihat, cintah hanya membutuhkan hati untuk merasakan
ketertarikan tidak membutuhkan hati, ketertarikan membutuhkan mata untuk menilai apakah dia o,k atau tidak

cintah hanya terjadi sekali seumur hidup, cintah sangat tulus sehingga dia tidak mengenal kebencian atau penghianatan. contohnya ketika orang yang kita cintai menyakiti kita, kita tetap mencintainya dan beranggapan apapun yang terjadi adalah salahku bukan salah nya

ketertarikan tidak membutuhkan ketulusan tapi kebutuhan, ketertarikan tidak akan pernah memberi tapi berharap dia diberi, ketika apa yang dia harapkan tidak terjadi dia akan meninggalkan mu atau ketika dia sudah mendapatkan apa yang dia mau dia juga akan meninggalkan mu

cintah hanya bisa dimiliki oleh hati yang tulus yang tidak memakai logika dalam bertindak, tidak bisa melihat dia hanya bisa merasakan
sedangkan ketertarikan bersifat logika, sehinnga ada proses penilaian

berarti ketertarikan itu ngak boleh?
ya jelas boleh tapi sebaiknya ketertarikan dan cinta berjalan bersama
ketika kita mencintai seseorang orang tampa alasan itu bukan cinta tapi suatu kebodohan dalam berlogika
ketika kita tertarik pada seseorang dan kita ingin memilikinya tapi tampa harus mencintainya itu jahat dan itu sangat tidak adil buat nya atau buatmu karana kamu akan selalu membohongi hati mu

trussss gimana?
cintailah dia dengan sebuah alasan, sesepeleh apa pun alasannya
karna ketika kita mencintai seseorang dengan sebuah alasan kita akan mempunyai tujuan untuk mencitainya, ketika kita mempunyai tujuan kita akan berusaha untuk mendapatkannya

sooo,,,, cinta dan logika harus saling beriringan.
 

Kamis, 07 Mei 2015

Laporan Praktikum Psikologi Eksperimen



LAPORAN PRAKTIKUM
PSIKOLOGI EKSPERIMEN

1. Nama Eksperimenter  : Nelam Rosa
2. Nomor Mahasiswa      : 1300013211
3. Nama Subjek              : a. X
   b.Y
4. Jenis Kelamin              : a. Perempuan
    b. Perempuan
5. Umur                           : a. 17 Tahun
                                          b. 17 Tahun
6. Pendidikan                  : a. Mahasiswa
    b. Mahasiswa
7. Nama Eksperimen      : Asosiasi
8. Nomor Eksperimen     : I
9. Tangga Eksperimen    : 24 November 2014
10. Waktu                        : 12.30 – 14.30 WIB
11. Tempat Eksperimen : Laboratorium Psikologi Fakultas Psikologi
                                         Universitas Ahmad Dahlan

I.          PROBLEM
Tanggapan-tanggapan dari pikiran kita melihat datang dan pergi. Banyak dan sedikit tanggapan berhubungan dengan kebiasaan. Stimulus yang berbeda menghasilkan jumlah tanggapan yang berbeda pula.
Setiap individu akan memberikan respon yang berbeda ketika dihadapkan pada stimulus yang boleh ditanggapi secara bebas dengan ketika dihadapkan pada stimulus yang dibatasi tanggapannya.

II.         DASAR TEORI
Menurut Thorndike (Walgito, 2010) asosiasi antara sense of impression impuls to action, disebutnya sebagai koneksi atau connection, yaitu usaha untuk menggabungkan antara kejadian sensoris dengan perilaku. Thorndike menitikberatkan pada aspek fungsional dari perilaku, yaitu bahwa proses mental dan perilaku berkaitan dengan penyesuaian diri organisme terhadap lingkungannya. Karena itu Thorndike diklasifikasikan sebagai behavioris yang fungsional, berbeda dengan Pavlov sebagai behavioris yang asosiatif.
Dari eksperimennya Thorndike mengajukan adanya tiga macam hukum yang sering dikenal dengan hukum primer dalam hal belajar, yaitu :
1.   Hukum Kesiapan (The Law Of Readiness)
          Menurut Thorndike belajar yang baik harus adanya kesiapan, maka hasil belajarnya tidak akan baik. Secara praktis hal tersebut dapat dikemukakan bahwa :
a.   Apabila pada organisme adanya kesiapan untuk melakukan sesuatu aktivitas dan organisme itu dapat melaksanakan kesiapannya itu, maka organisme tersebut akan mengalami kepuasan.
b.   Apabila organisme mempunyai kesiapan untuk melakukan sesuatu aktivitas, tetapi organisme itu tidak dapat melakukannya, maka organisme itu akan mengalami kekecewaan atau frustasi.
c.   Apabila organisme itu tidak mempunyai kesiapan untuk melakukan suatu aktivitas, tetapi disuruh melakukannya, maka hal tersebut akan menimbulkan keadaan yang tidak memuaskan.
2.   Hukum Latihan (The Law Exercise)
          Mengenai hukum latihan oleh Thorndike dikemukakan adanya dua aspek, yaitu
a.   The Law Of Use
Yaitu hukum yang menyatakan bahwa hubungan atau koneksi antara stimulus dan respon akan menjadi kuat apabila sering digunakan.
b.   The Law Of Disuse.
Yaitu hukum yang menyatakan bahwa hubungan atau koneksi antara stimulus dan respon akan menjadi lemah apabila tidak ada latihan.

3.   Hukum Efek ( The Law Of Effect )
          Mengenai hukum efek Thorndike berpendapat bahwa memperkuat atau memperlemah hubungan antara stimulus dan respon tergantung pada bagaimana hasil dari respon yang bersangkutan. Apabila sesuatu stimulus memberikan hasil yang menyenangkan atau memuaskan, maka hubungan antara stimulus dan respon itu akan menjadi kuat, demikian sebaliknya apabila hasil menunjukkan hal yang tidak menyenangkan, maka hubungan antara stimulus dan respon melemah. Dengan kata lain apabila sesuatu stimulus menimbulkan respon yang membawa reward hubungan antara stimulus respon (S-R) menjadi kuat, demikian sebaliknya. Hukum efek ini sebenarnya didasarkan pada hukum asosiasi lama, yaitu hukum frekuensi dan hukum kontiguitas sebagai determinan kuat tidaknya hubungan antara stimulus dan respon. Walaupun Thorndike menerima hukum frekuensi dan hukum kontiguitas, namun Thorndike menambahkan bahwa konsekuensi dari respon itu akan ikut berperan sebagai determinan kuat lemahnya asosiasi antara stimulus dan respon (Walgito, 2010)..
Teori asosiasi menekankan pada arti respons yang diberikan oleh organisme dan asosiasi atau hubungan antara responden stimuli. Mereka menekankan peranan pengalaman sebelumnya dan penguatan ( reinforcement ) respon. Ada tiga macam asosiasi yaitu:
1.   Immediate Forward Association
            Immediate forward association akan terjadi antara materi belajar yang berdekatan di depannya (maju ke depan) sesuai di dalam daftar: A-B, B-C, C-D, dan sebagainya.
2.   Immediate Backward Association
Misalnnya terdapat satu daftar komposisi materi belajar: A-B-C-D-E-F, immediate backward association akan terjadi antara materi belajar yang berdekatan di belakangnya (mundur kebelakang)  sesuai di dalam daftar: B-A, C-B, dan sebagainya.
3.   Remote Association
Misalnnya terdapat satu daftar komposisi materi belajar: A–B–C–D–E-F, remote association akan terjadi diantara materi belajar yang tidak berdekatan dalam asosiasi maju atau mundur (immediate forward dan backward association) sesuai di dalam daftar: B-E atau D-A. Contoh: mahasiswa matakuliah psikologi faal diminta untuk mengingat nama-nama duabelas syaraf. Syaraf- syaraf tersebut telah dinamai secara berurutan sebagai berikut : olfactory, tic, oculomotor, trochlear, trigeminal, abducens, facial, stato-acoustic, haryngeal, vagus, dan accessory. Dari daftar nama-nama tersebut, dapat dipakai untuk menjelaskan tiga macam asosiasi, misalnya: belajar "optic" mungkin sebagai syarat untuk "olfactory" atau  "oculomotor" (immediate backward dan forward association) (Atkinson & Richard, 2011)
               Menurut Thorndike, faktor- faktor yang mempengaruhi asosiasi antara lain:
1.   Adanya aktifitas atau kebiasaan yang sering dihadapi.
2.   Adanya berbagai respon terhadap berbagai stimulus.
3.   Adanya eliminasi terhadap berbagai respon yanag salah.
4.   Pengalaman-pengalaman yang pernah dialami.
5.   Konsentrasi.
6.   Belajar.

III.        HIPOTESIS
Ada penngaruh perbedaan tipe asosiasi terhadap jumlah kata- kata yang benar.

IV.       DESAIN EKSPERIMEN
Desain Eksperimen yang digunakan adalah two independent group design yaitu desain eksperimen yang memberikan penugasan yang berbeda pada dua kelompok eksperimen.
   R

X1     Y




X2    Y 
Keterangan:
R    : Random
X1  : Perlakuan discreate free associantion
X2  : Perlakuan discreate control assoiantion
Y    : Pengukuran




V.        PROSEDUR
A.  Material
1.   Daftar kata- kata sebagai stimulus (lampiran 1 dan lampiran 2)
2.   Lembar observasi (lampiran 3)
3.   Stopwatch
B.  Prosedur Pelaksanaan
1.    Eksperimenter bersama dengan asisten mengundi eksperimentee, dari seluruh eksperimentee siapa yang masuk kelompok 1 dan siapa yang masuk kelompok 2.
2.    Asisten mengundi kelompok mana yang mendapat stimulus golongan discreate free association dan kelompok mana yang mendapat stimulus golongan discreate controlled association.
3.    Eksperimentee yang mendapat stimulus golongan discreate free association dipersilahkan untuk duduk. Esperimentee yang mendapat stimulus golongan discreate controlled association diminta menunggu di luar ruangan.
4.    Eksperimenter membacakan instruksi: “Tugas Anda adalah mengatakan asosiasi satu kata yang segera saudara ingat setelah saya menyatakan satu perkataan. Saudara tidak boleh memikirkan jawaban yang akan saudara berikan, melainkan benar- benar apa yang seketika itu timbul dalam asosiasi saudara saja.”
5.    Eksperimenter membaca kata- kata pada golongan discreate free association. Eksperimenter mencatat satu kata sebagai respon eksperimente dalam 10 detik pertama, kemudian membacakan kata selanjutnya dan seterusnya sampai kata terakhir dalam golongan tersebut. Eksperimenter juga mencatat observasi perilaku eksperimentee selama proses eksperimen.
6.    Eksperimentee yang mendapat stimulus golongan discreate free association dipersilahkan untuk menunggu diluar ruangan. Eksperimentee yang mendapat stimuls golongan discreate controlled association diminta untuk masuk ruangan dan dipersilahkan duduk.
7.    Eksperimenter membacakan instruksi: “Tugas Anda adalah mengatakan asosiasi satu kata yang segera saudara ingat setelah saya menyatakan satu perkataan. Saudara tidak boleh memikirkan jawaban yang akan saudara berikan, melainkan benar- benar apa yang seketika itu timbul dalam asosiasi saudara saja.”
8.    Eksperimenter membaca kata- kata pada golongan discreate controlled association. Eksperimenter mencatat satu kata sebagai respon eksperimente dalam 10 detik pertama, kemudian membacakan kata selanjutnya dan seterusnya sampai kata terakhir dalam golongan tersebut. Eksperimenter juga mencatat observasi perilaku eksperimentee selama proses eksperimen.
9.    Ekserimentee kemudian dipersilahkan keluar ruangan.

VI.       PENCATATAN HASIL
1.   Eksperimenter melakukan scoring terhadap jawaban dari kedua eksperimentee. Jawaban benar diberi skor 1, jawaban salah diberi skor 0.
2.   Eksperimenter bersama- sama dalam satu kelompok mengumpulkan skor hasil eksperimen dari seluruh eksperimentee.
3.   Pencatatan hasil kelompok mengikuti table berikut
Kelompok Discreate Free Association (A1)
Kelompok Discreate Controlled Association (A2)
Eksperimentee
Skor
Eksperimentee
Skor
Annisa
7
Icha
17
Elmi
12
Eka
15
Dwi
19
Ersi
18
Rika
19
Aziz
18
Susi
19
Puji
19
Anggi
16
Nana
18
Muamil
17
Eva
16
Anung
19
Irma
20
Salsabila
18
Novita
20
Rahmad
19
Aruan
20
Pujo
13
Muhani
13
Dimas
17
Nita
18
Total
195
Total
212

VII.      ANALISA HASIL
  Hasil eksperimen dianalisis dengan uji t independent sample. Alasan menggunakan uji t karena untuk menguji perbedaan dari dua populasi yang independent.

Independent Samples Test


Levene's Test for Equality of Variances
t-test for Equality of Means


F
Sig.
T
df
Sig. (2-tailed)
Mean Difference
Std. Error Difference
95% Confidence Interval of the Difference


Lower
Upper
Skor
Equal variances assumed
.025
.877
-.272
18
.789
-.200
.735
-1.744
1.344
Equal variances not assumed


-.272
17.902
.789
-.200
.735
-1.744
1.344
                       Berdasarkan uji t independent sample dengan software SPSS maka diperoleh hasil t= 1.132, P(0.273) > 0,05, maka dappat disimpulkan bahwa hasilnya adalah tidak signifikan yang artinya tidak ada pengaruh perbedaan yang signifikan antara kelompok Discreate Free Assosiation dan kelompok Discreate Controlled Assosiation terhadap jumlah kata – kata yang benar.





VIII.    DISKUSI
Dalam percobaan ini eksperimentee dibagi menjadi dua kelompok, yaitu discreate free association dan discreat controlled association. Eksperimentee kelompok discreate free association dipersilahkan lebih dulu untuk melakukan percobaan, sedangkan kelompok discreate controlled association diminta untuk menunggu diluar terlebih dahulu.
berdasarkan hasil analisa data yang dilakukan dengan uji t independent sample, maka diperoleh nilai P = 0,273. Artinya P(0,273) > 0,05 = tidak signifikan. Ketidak signifikan hasil tersebut dikarenakan oleh faktor- faktor yang mempengaruhi asosiasi diantaranya:
1.    Adanya aktifitas atau kebiasaan yang sering dihadapi; orang akan mudah mengingat atau melakukan sesuatu jika sesuatu tersebut sering dilakukan.
2.    Adanya berbagai respon terhadap berbagai stimulus; respon orang satu dengan orang lain tidak sama itu bisa dipengaruhi oleh pengalaman individu terhadap stimulus yang didapat.
3.    Adanya stimulus terhadap berbagai respon yang salah; orang cenderung melupakan atau mengabaikan sesuatu yang dianggap salah.
4.    Pengalaman-pengalaman yang pernah dialami; orang cenderung dengan mudah mengasosiasi sesuatu berdasarkan pengalaman-pengalaman yang pernah dialami.
5.    Konsentrasi; ketika seseorang dapat fokus pada suatu hal, orang tersebut dapat dengan mudah menginterprestasikan pada hal yang difokuskan tersebut.
6.    Belajar; orang cenderung dengan mudah mengasosiasi bila sesuatu tersebut sudah dipelajari sebeumnya.
               Jadi bisa disimpulkan orang akan mudah melakukan asosiasi jika sebelumnya ada pengalaman-pengalaman yang pernah dialami, contohnya dalam eksperimen ini ada daftar kata sepeda yang harus disebut kata bagian-bagiannya, bagi orang yang pernah melihat sepeda akan dengan mudah menyebutkan bagian dari sepeda tapi bagi orang yang belum pernah melihat sepeda akan sulit menyebutkan bagian dari sepeda.


IX.       SIMPULAN
Berdasarkan hasil analisa data dengan uji t independent sample diperoleh nilai P = 0,273 artinya tidak ada pengaruh perbedaan yang signifikan antara kelompok Discreate Free Association dan kelompok  Discreate Controlled Association terhadap jumlah kata–kata yang benar. Maka hipotesis yang menyatakan ada penngaruh perbedaan tipe asosiasi terhadap jumlah kata- kata yang benar tidak diterima.
      
X.        OBSERVASI DALAM EKSPERIMEN
1.      Eksperimentee 1:   x
             Selama percobaan berlangsung eksperimentee terlihat sedikit tegang bahkan eksperimentee sesekali menggaruk kepalanya sambil berpikir dan tersenyum.
2.      Eksperimentee 2:  y
             Selama percobaan berlangsung, eksperimentee terlihat senang itu terlihat ketika eksperimentee menjawab pertanyaan dengan sesekali tersenyum

XI.       Kegunaan Sehari- hari
1.      Dalam kegunaan sehari-hari, percobaan asosiasi dapat digunakan untuk melatih dan mempertajam daya ingat kita dengan cara mengerjakan soal Teka Teki Silang (TTS).
2.      Dalam kegunaan sehari-hari, percobaan asosiasi juga dapat digunakan untuk melakukan perhitungan, penjumlahan, pengurangan dan perkalian.


                                                                               Yogyakarta, 24 November 2014
Eksperimenter,


      Nelam Rosa
Nilai       :
Asisten   : Ais Noor Hidayanti





DAFTAR PUSTAKA

Atkinson, RI dan Richard. (2011). Pengantar Psikologi. Jakarta: Penerbit   Airlangga.

Crain, William. (2014). Teori Perkembangan. Pustaka Pelajar: Yogyakarta.

Walgito, Bimo. (2014). Pengantar Psikologi Umum. Yogyakarta: Andi Offset.

Widiana, H. S & Kushartati, S. 2009. Petunjuk Praktikum Psikologi Eksperimen. Yogyakarta: Laboraturium Psikologi Fakultas Psikologi Universitas Ahmad Dahlan.