Sabtu, 14 Maret 2015

CONTOH JOB DESCRIPTION



CONTOH JOB DESCRIPTION

Jabatan pekerjaan :
SUPERVISOR

Bertanggung Jawab Kepada :
             MANAGER/ASST.MANAGER

Sasaran Tugas:
                   Supervisor bertanggung jawab untuk mengatur,  mengontrol dan meningkatkan kemampuan sumberdaya manusia,  bahan baku setengah jadi / jadi dan mesin – mesin produksi didalam wilayah tanggung jawabnya guna memaksimalkan effisiensi, meminimalkan biaya dan menghasilkan bahan setengah jadi / jadi yang memenuhi standard kebutuhan pelanggan.

Struktur Pelaporan :
 Supervisor bertanggung jawab kepada Manager .

Sifat & Lingkup :
                   Proses A merupakan proses antara x dengan y di divisi z dimana hasil proses  y  masih dalam bentuk setengah jadi, diproses lanjut secara x y z guna mencapai produk dengan keadaan tertentu sebelum kemudian dikirim ke y. Supervisor harus mampu mensupervisi secara langsung kepala regu dibawah tanggung jawabnya (serta mampu mensupervisi secara tidak langsung semua karyawan yang berada dibawah tanggung jawabnya) dan mampu bekerja sama secara efektif dan efisien dengan semua bagian lain terkait dengan bagiannya (PPIC, QC, Maintenance, Electric, dll. ) guna memproduksi bahan jadi pada tingkat biaya yang rendah dan memenuhi batas “ Volume & Waktu “ pengiriman bahan jadi yang telah direncanakan.

Hasil Utama & Tantangan :
1. Diharapkan memiliki ketrampilan dan pengetahuan atas “ Proses “ dari setiap      mesin yang menjadi tanggung jawabnya tersebut.
2. Diharapkan memiliki pengetahuan atas aplikasi produk dari pelanggan (Customer Product Knowledge)
3. Diharapkan untuk mengatur program perbaikan berkelanjutan guna mengeliminasi bahan tidak jadi (afvalan) dan meningkatkan efisiensi.

Tanggungjawab Utama :
1. Bertanggung jawab dalam melakukan supervisi langsung terhadap kepala regu yang dibawahinya (serta mampu mensupervisi secara tidak langsung semua karyawan yang berada di bawah tanggung jawabnya), hal ini termasuk dalam memberikan bimbingan/pelatihan kepada anak buah guna mencapai tingkat batas minimum kemampuan yang diperlukan bagi teamnya dan mendisiplinkan anak buahnya sesuai dengan ketentuan/peraturan yang berlaku di perusahaan .
2. Bertanggung jawab dalam mencapai tingkat kuantitas (output) ,kualitas dan schedule produksi serta tingkat utilisasi mesin produkssi yang telah ditetapkan dan disepakati bersama.
3. Bertanggung jawab dalam pemenuhan standard kualitas hasil produksi sesuai dengan tingkat kebutuhan customer & schedule pengiriman hasil produksi sesuai PPIC schedule.
4. Bertanggung jawab terhadap keselamatan kerja dan standard kebersihan lingkungan kerja (keteraturan/kerapihan lingkungan kerja).
5. Bertanggung jawab dalam melakukan koordinasi dan membina kerja sama team yang solid.
6. Bertanggung jawab dalam membuat laporan secara berkala kepada atasannya atas hasil kerjanya beserta analisa permasalahannya, tindakan–tindakan perbaikan atas permasalahan tersebut serta batas waktu estimasi penyelesaian masalah–masalah tersebut secara singkat , padat dan kongkrit.

Wewenang :
1. Wewenang dalam mendisiplinkan anak buahnya sesuai dengan kententuan/peraturan yang berlaku di perusahaan.
2. Wewenang dalam menghentikan dan mengatur pengoperasian mesin– mesin produksi guna mencapai hasil produksi yang sesuai dengan kebutuhan pelanggan serta pemenuhan batas waktu pengiriman hasil produksi.

1. Kualifikasi :
1. Pendidikan (Education) :
                         a. S1 Pengalaman 2 tahun
                         b. D3 Pengalaman 3 tahun
                         c. SLTA Pengalaman 10 tahun
                         d. SLTP pengalaman 15 tahun

2. Pengalaman (Experience) :
             a. Mechanical
b. Metallurgy
c. Dasar Operasi Mesin x
d. Dasar Proses Produksi


3. Pelatihan dan Keahlian (Training & Skill) :
a. Teknis :
                         Dasar Operasi Mesin x
b. Managerial :
                         Proses Produksi
                         Keselamatan dan Kesehatan Kerja
                         Sumber Daya Manusia

4. Persyaratan khusus :
             a. Tidak cacat fisik

5. Lain-lain :
             a. Disiplin
             b. Bertanggung jawab

Transfer of learning



LAPORAN PRAKTIKUM
PSIKOLOGI EKSPERIMEN

1.    Nama Eksperimenter :  Nelam Rosa
2.    Nomor Mahasiswa     :  1300013211
3.    Nama Subjek             :  Nenik Santika
4.    Jenis Kelamin             :  Perempuan
5.    Umur                          :  18 Tahun
6.    Pendidikan                  :  Mahasiswi Fakultas Ekonomi
7.    Nama Eksperimen     :  Transfer of learning
8.    Nomor Eksperimen    :  IV
9.    Tangga Eksperimen   :  1 Desember 2014
10. Waktu                         :  12.30 – 14.30 WIB
11. Tempat Eksperimen   :  Laboraturium Psikologi Fakultas Psikologi
                                              Universitas Ahmad Dahlan

I.          PROBLEM
Apa yang kita pelajari sebelumnya akan mempengaruhi belajar kita sekarang. Transfer of learning terjadi ketika pengetahuan atau ketrampilan pada suatu tugas ditransfer pada tugas yang baru. Bagaimana suatu tugas dapat mempengaruhi tugas yang lain. Bagaimana perbedaan hasil belajar, yang sebelumnya diberi tugas memasukkan bola dengan tugas menghafalkan pasangan kata.

II.         DASAR TEORI
Istilah Transfer belajar berasal dari bahasa Inggris “transfer of learning” yang berarti pemindahan atau pengalihan hasil belajar dari mata pelajaran yang satu ke mata pelajaran yang lain atau dari kehidupan sehari-hari diluar lingkungan sekolah. Adanya pemindahan atau pengalihan ini menunjukkan bahwa ada hasil belajar yang bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam memahami materi pelajaran yang lain. Hasil belajar yang diperoleh dan dapat dipindahkan tersebut, dapat berupa pengetahuan (informasi verbal), kemahiran intelektual, keterampilan motorik atau afektif dan lain-lain. Bila hasil belajar (pengetahuan) yang terdahulu memperlancar atau membantu proses belajar yang kemudian maka dikatakan telah terjadi transfer belajar yang disebut transfer positif. Misalnya materi pelajaran biologi memudahkan siswa untuk memahami dan mempelajari materi geografi. Sebaliknya bila pengetahuan atau pengalaman yang diperoleh lebih dahulu mempersulit proses belajar yang kemudian maka dikatakan telah terjadi transfer belajar negatif.
Sehubungan dengan pentingnya transfer belajar maka guru dalam proses pembelajaran harus membekali pelajar dengan kemampuan-kemampuan yang nantinya akan bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karenanya perlu diciptakan kondisi yang memungkinkan transfer belajar positip dapat terjadi.
Berikut merupakan teori- teori dari transfer of learning antaa lain yaitu:
1.   Teori Generalisai
Menurut teori ini transfer belajar lebih berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk menangkap struktur pokok, pola dan prinsip umum. Bila seorang siswa mampu menangkap konsep, kaidah dan prinsip untuk memecahkan persoalan maka siswa itu mempunyai bekal yang dapat ditransferkan ke bidang-bidang lain diluar bidang studi dimana konsep, kaidah dan prinsip itu mula-mula diperoleh. Maka siswa itu dikatakan mampu mengadakan “generalisasi” yaitu mampu menangkap ciri-ciri atau sifat-sifat umum yang terdapat dalam sejumlah hal yang khusus. Generalisasi semacam itu sudah terjadi bila siswa membentuk konsep, kaidah, prinsip dan siasat-siasat pemecahan problem. Jadi kesamaan antara dua bidang studi tersebut tidak terdapat dalam unsur-unsur khusus melainkan dalam pola, dalam struktur dasar dan dalam prinsip.
2.   Teori elemen identik
Pandangan ini dipelapori oleh Edwar Thorndike yang mengatakan bahwa transfer belajar dari satu bidang studi ke bidang studi yang lain atau dari pengalaman hidup sehari-hari terjadi berdasarakan adanya unsur-unsur yang sama (identik) dalam kedua bidang studi itu. Makin banyak unsur yang sama maka akan semakin besar terjadinya transfer belajar. Dengan kata lain terjadinya transfer belajar sangat tergantung dari banyak sedikitnya kesamaan unsur-unsur. Menurut teori ini hakekat transfer belajar adalah pengalihan dari penguasaan suatu unsur tertentu pada bidang studi yang lain, makin banyak adanya unsur-unsur yang sama akan semakin besar terjadinya transfer belajar positip.
Sementara itu Gagne seorang ahli psikologi pendidikan mengatakan bahwa transfer dapat digolongkan dalam empat kategori yaitu:
1. Transfer Positif
Transfer yang berefek lebih baik terhadap kegiatan belajar selanjutnya, Transfer positif yakni belajar dalam situasi yang dapat membantu belajar dalam situasi-situasi lain. Memperoleh keuntungan berarti bahwa pemindahan atau pengalihan hasil belajar itu berperan positif, yaitu mempermudah dan menolong dalam menghadapi tugas belajar yang lain dalam rangka kurikul di sekolah atau dalam mengatur kehidupan sehari-hari, transfer belajar demikian disebut transfer positif. Dapat terjadi dalam diri seseorang apabila guru membantu si belajar untuk belajar dalam situasi tertentu dan akan memudahkan siswa untuk belajar dalam situasi-situasi lainnya. Transfer positif mempunyai pengaruh yang baik bagi siswa untuk mempelajari materi yang lain.
2. Transfer Negatif
Transfer yang berefek buruk terhadap kegiatan belajar selanjutnya . Transfer negatif dapat dialami seorang siswa apabila ia belajar dalam situasi tertentu yang memiliki pengaruh merusak atau mengalami hambatan terhadap keterampilan atau pengetahuan yang dipelajari. “Mengalami hambatan” berarti bahwa pemindahan atau pengalohan hasil belajar itu berperan negatif, yaitu mempersukar dan mempersulit dalam menghadapi tugas belajar yang lain dalam rangka kurikulum sekolah atau dalam mengatur kehidupan sehari-hari, transfer belajar yang demikian disebut transfer belajar negatif. Dialami seseorang apabila si belajar dalam situasi tertentu memiliki pengaruh merusak terhadap ketrampilan atau pengetahuan yang dipelajari dalam situasi yang lain. Sehubungan dengan ini guru berupaya untuk menyadari dan menghindarkan siswa-siswanya dari situasi belajar tertentu yang dapat berpengaruh negatif terhadap kegiatan belajar dimasa depan.
3. Transfer Vertikal (tegak lurus)
Transfer yang berefek baik terhadap kegiatan belajar atau pengetahuan yang lebih tinggi. Transfer vertikal (tegak lurus) dapat terjadi dalam diri seorang siswa apabila pelajaran yang telah dipelajari dalam situasi tertentu membantu siswa tersebut dalam menguasai pengetahuan atau keterampilan yang lebih tinggi atau rumit. Terjadi dalam diri seseorang apabila pelajaran yang telah dipelajari dalam situasi tertentu membantu siswa tersebut. dalam menguasai pengetahuan atau ketrampilan yang lebih tinggi atau rumit. Misalnya dengan menguasai materi tentang pembagian atau perkalian maka siswa akan lebih mudah mempelajari materi tentang pangkat. Agar memperoleh transfer vertikal ini guru dianjurkan untuk menjelaskan kepada siswa secara eksplisit mengenai manfaat materi yang diajarkan dan hubungannya dengan materi yang lain. Dengan mengetahui manfaat dari materi yang akan dipelajari dengan materi lain yang akan dipelajari dikelas yang lebih tinggi diharapkan ia akan mengikuti pelajaran ini dengan lebih serius.
4. Transfer Lateral (ke arah samping)
Transfer lateral (ke arah samping) terjadi pada siswa bila ia mampu menggunakan materi yang telah dipelajari untuk mempelajari materi yang memiliki tingkat kesulitan yang sama dalam situasi lain. Dalam hal ini perubahan waktu dan tempat tidak mempengaruhi mutu hasil belajar siswa. Misalnya siswa telah mempelajari materi tentang tambahan, dengan menguasai materi tambahan maka siswa akan lebih mudah mempelajari materi yang lebih tinggi tingkat kesilitannya misalnya materi tentang pembagian. Contoh lainnya seorang siswa STM telah mempelajari tentang mesin, maka ia akan dengan mudah mempelajari teknologi mesin lain yang memiliki elemen dan tingkat kerumitan yang hampir sama.
Dengan demikian transfer of learning adalah kesanggupan seseorang untuk menggunakan suatu kecakapan, pengertian, prinsip- prinsip dan lain- lain yang diperoleh ke dalam situasi baru.
Adapun faktor-faktor yang berperan dalam transfer belajar, yakni sebagai berikut:
1. Proses belajar
.
2. Hasil belajar.
3. Bahan
atau materi bidang-bidang studi.
4. Faktor-faktor subyektifitas dipihak siswa
.
5. Sikap dan usaha g
uru.

III.        HIPOTESIS
Ada pengaruh terjadinya tranfers of learning dalam menyelesaikan  tugas.
IV.       DESAIN EKSPERIMEN
Desain eksperimen yang digunakan adalah two independent group design yaitu desain eksperimen yang memberikan penugasan yang berbeda pada dua kelompok eksperimen.

V.        PROSEDUR
A.  Material
1.   Bola tenis
2.   Keranjang
3.   Daftar pasangan kata (lampiran 4)
4.   Lembar observasi (lampiran 3)
B.  Prosedur Pelaksanaan
1.   Seluruh eksperimentee diminta untuk memasuki ruangan, eksperimentee diiundi dibagi menjadi dua kelompok secara random.
2.   Kelompok 1 diminta melempar bola ke dalam keranjang dengan jarak 3 meter dari keranjang secara bergiliran. Hanya mereka yang lemparannya masuk kedalam keranjang yang diberi skor. Skor diberikan termasuk pada mereka yyang dapat memasukkan bola ke dalam keranjang tapi keluar lagi.
3.   Masing- masing eksperimentee melakukan 10 lemparan bola. Untuk lima lemparan bola pertama (seri A), subjek harus langsung melempar bola ke dalam keranjang tanpa memantul di lantai dulu. Kalau bola memantul terlebih dahulu tidak mendapat skor. Untul lemparan ke 6 sampai 10 (seri B), masing- masing eksperimentee harus melempar bola ke dalam keranjang, dengan memantulkan bola sekali dan bola masuk ke dalam keranjang.
4.   Eksperimentee dari kelompok 2 dipersilahkan keluar ruangan. Eksperimentee diminta untuk menghafalkan daftar pasangan kata.
5.   Etika semua eksperimentee kelompok 1 selesai dengan tugasnya, kelompok 2 diminta memasuki ruangan. Eksperimentee kelompok 2 diminta melempar bola ke dalam keranjang dengan memantulkan bola sekali dan bola masuk ke dalam keranjang (seri B), sebanyak 5 lemparan.

VI.       PENCATATAN HASIL
1.    Eksperimentee mengamati dan mencatat jumlah lemparan yang masuk dari masing- masing eksperimentee.
2.   Eksperimenter bersama- sama dalam satu kelompok mengumpulkan catatan waktu hasil eksperimentee dari seluruh eksperimentee.
3.   Pencatatan Hasil Kelompok mengikuti table berikut:
Kelompok 1
Kelompok 2
eksperimentee
Jumlah lemparan yang masuk
eksperimentee
Jumlah lemparan yang masuk
Seri A
Seri B
Seri B
Anggi
1
0
Arum
0
Puji
0
0
Tata
0
Rika
0
1
Nenik
1
Annisa
1
0
Vita
0
Dimas
0
1
Novita
1
Elmi
1
2
Gina
1
Total
3
4
Total
3


VII.      ANALISIS HASIL
               Test Statisticsb

Skor
Mann-whitney U
Wilcoxon W
Z
Asymp. Sig. (2-tailed)
Exact sig.[2⃰ (1-tailed sig.)]
16.500
37.500
-.267
.789
.818a
          a. Not corrected for ties
      b. Grooping variabel: Kelompok
Pada eksperimen ini, metode analisa data yang digunakan adalah dengan Mann-Whitney Test. Alasan menggunakan Mann-Whitney Test karena Mann-Whitney Test merupakan sebuah metode yang dipakai untuk menguji signifikansi perbedaan antara 2 populasi, dengan menggunakan sampel random yang ditarik dari populasi yang sama. Test ini juga berfungsi sebagai alternative penggunaan uji t bilamana persyaratan-persyaratan parametriknya tidak terpenuhi, dan bila datanya berskala ordinal.
Berdasarkan hasil analisa data yang dilakukan dengan Mann-Whitney Test yang menggunakan software SPSS, maka diperoleh hasil P=0,789. Artinya P(0,789) > 0,05 = Tidak Signifikan, yang berarti bahwa tidak ada pengaruh perbedaan yang signifikan antara hasil belajar pada subjek yang diberi tugas menghafal pasangan kata dengan subjek yang diberi tugas memasukkan bola ke dalam keranjang (terlampir).

VIII.    DISKUSI
Dalam eksperimen ini, terdapat 2 kelompok. Kelompok 1 diberi tugas untuk melempar bola ke dalam keranjang sebanyak 10 kali dengan pembagian 5 kali lemparan tanpa dipantulkan dan 5 kali lemparan selanjutnya dengan pantulan terlebih dahulu. Kelompok 2 diberi tugas untuk menghafal pasangan kata terlebih dahulu lalu melempar bola ke dalam keranjang.
Berdasarkan hasil analisa data yang dilakukan dengan Mann-Whitney Test dalam eksperimen ini, maka diperoleh nilai P=0,789. Artinya P (0,789) > 0,05 = Tidak Signifikan. Hal ini disebabkan oleh faktor-faktor yang berperan pada transfer of learning, seperti:
1. Proses belajar; baru dapat diharapkan terjadi setelah siswa mengolah materi pelajaran dengan sungguh-sungguh, yaitu dalam rangka fase yang ketiga. Keberhasilan dalam pengolahan itu sendiri pun bergantung pada kesungguhan motivasi belajar (fase pertama) dan kadar konsentrasi terhadap unsur-unsur yang relevan (fase ketiga).
2. Hasil belajar; ada aneka hasil belajar yang bersifat lebih terbatas dan, karena itu, kemungkinan untuk mengalihkannya ke bidang studi yang lain lebih terbatas, seperti informasi verbal dan keterampilan motorik.
3. Bahan atau materi dalam bidang studi,metode atau prosedur kerja yang diikuti dan sikap yang dibutuhkan dalam bidang studi: transfer belajar mengandaikan adanya kesamaan, maka kesamaan daerah antara daerah/bidang studi atau antara bidang studi dan kehidupan sehari-hari itu, secara nyata harus ada, entah menyangkut materi, metode, prosedur kerja atau sikap.
4. Faktor-faktor subyektif di pihak siswa; sebagaimana fungsi psikis kognitif, konatif dan afektif berperanan pula dalam mengadakan transfer belajar, yang sebenarnya berkaitan erat sekali dengan proses belajar itu sendiri.
5. Sikap dan usaha guru; proses belajar di sekolah berlangsung dalam interaksi dengan tenaga kependidikan yang mengajar, yang berlangsung dalam kelas adalah proses belajar mengajar. Apakah siswa berhasil dalam mengadakan transfer belajar, bila hal itu dimungkinkan, tergantung juga dari kesadaran dan usaha guru untuk mendampingi siswa dalam mengadakan transfer belajar.
               Dapat dijelaskan lebih lanjut bahwa tingkat kemampuan individu dalam memecahkan masalah menggunakan hal-hal yang sudah dipelajarinya, contoh dalam eksperimen kali ini yaitu melempar bola ke dalam keranjang, subjek pada kelompok satu yang terlebih dahulu diberikan tugas yang sejenis pada kesempatan kedua dengan tugas yang sedikit berbeda instruksinya memperoleh skor yang lebih besar. Hal ini mungkin disebabkan karena adanya motivasi dan usaha yang jauh lebih besar yang dilakukan oleh kelompok 2 sehingga hasil yang diperoleh jauh lebih besar dibandingkan dengan skor yang diperoleh oleh kelompok 1.

IX.       KESIMPULAN
Berdasarkan hasil analisis data dengan Mann Whitney Test, maka diperoleh nilai dengan P=0,789. Artinya P (0,789) > 0,05 = Tidak Signifikan, yang berarti bahwa tidak ada pengaruh perbedaan yang signifikan antara hasil belajar pada subjek yang diberi tugas menghafal pasangan kata dengan subjek yang diberi tugas memasukkan bola ke dalam keranjang. Maka hipotesis yang menyatakan bahwa ada pengaruh perbedaan hasil belajar pada subjek yang diberi tugas menghafal pasangan kata dengan subjek yang diberi tugas memasukkan bola ke dalam keranjang tidak diterima.
                       


X.        OBSERVASI DALAM EKSPERIMEN
Eksperimentee:   Nenik Santika
Pada saat percobaan dimulai eksperimentee terlihat bingung dan tegang. Hal tersebut terlihat dari raut wajahnya yang kelihatan kaku dan sesekali tersenyum malu. Namun ketika eksperimentee dapat memasukan bola kedalam keranjang eksperimentee terlihat sangat senang sekali.

XI.       KEGUNAAN SEHARI-HARI
1.   Transfer of learning digunakan oleh para siswa untuk menemukan cara belajar yang paling sesuai dengan dirinya sehingga siswa mampu memperoleh hasil belajar yang jauh lebih maksimal.
2.   Digunakan oleh guru untuk menyampaikan materi pelajaran yang dianggap membosankan seperti sejarah sehingga guru akan dapat menyampaikan pelajaran tersebut jauh lebih baik dan mampu diserap oleh siswa dengan lebih maksimal pula.
3.   Digunakan oleh para mentor di lembaga pembelajaran untuk mencari cara yang mudah dan menarik dalam mengajarkan materi pembelajaran yang dirasakan sulit oleh siswa seperti matematika, fisika dan kimia.
                                                                                 Yogyakarta, 8 Desember 2014
Eksperimenter,


      Nelam Rosa
Nilai       :
Asisten   :  Ais Noor Hidayati


DAFTAR PUSTAKA

Atkinson, Rl dan Richard. (2010). Pengantar Psikologi. Jakarta: Penerbit Airlangga.

Crain, Willam. (2014). Teori Perkembangan. Pustaka Pelajar: Yogyakarta

Walgito, Bimo. (2010). Pengantar Psikologi Umum. Yogyakarta: Andi Offset

Widiana, H. S & Kushartati, S.(2009). Petunjuk Praktikum Psikologi Eksperimen. Yogyakarta: Laboraturium Psikologi Fakultas Psikologi Universitas Ahmad Dahlan