LAPORAN PRAKTIKUM
PSIKOLOGI EKSPERIMEN
1. Nama Eksperimenter : Nelam Rosa
2. Nomor Mahasiswa : 1300013211
3. Nama Subjek : a. X
b.Y
4. Jenis Kelamin : a. Perempuan
b. Perempuan
5. Umur : a. 17 Tahun
b.
17 Tahun
6. Pendidikan : a. Mahasiswa
b. Mahasiswa
7. Nama Eksperimen : Asosiasi
8. Nomor Eksperimen : I
9. Tangga Eksperimen : 24 November 2014
10. Waktu : 12.30 – 14.30 WIB
11. Tempat Eksperimen : Laboratorium Psikologi Fakultas Psikologi
Universitas
Ahmad Dahlan
I.
PROBLEM
Tanggapan-tanggapan
dari pikiran kita melihat datang dan pergi. Banyak dan sedikit tanggapan
berhubungan dengan kebiasaan. Stimulus yang berbeda menghasilkan jumlah
tanggapan yang berbeda pula.
Setiap individu
akan memberikan respon yang berbeda ketika dihadapkan pada stimulus yang boleh
ditanggapi secara bebas dengan ketika dihadapkan pada stimulus yang dibatasi
tanggapannya.
II.
DASAR TEORI
Menurut
Thorndike (Walgito, 2010)
asosiasi antara sense of impression impuls to action, disebutnya sebagai koneksi
atau connection, yaitu usaha untuk menggabungkan
antara kejadian sensoris dengan perilaku. Thorndike menitikberatkan pada aspek
fungsional dari perilaku, yaitu bahwa proses mental dan perilaku berkaitan
dengan penyesuaian diri organisme
terhadap lingkungannya. Karena
itu Thorndike diklasifikasikan
sebagai behavioris yang fungsional, berbeda dengan Pavlov sebagai behavioris
yang asosiatif.
Dari
eksperimennya Thorndike mengajukan adanya tiga macam hukum yang sering dikenal
dengan hukum primer dalam hal belajar, yaitu :
1.
Hukum
Kesiapan (The Law Of Readiness)
Menurut Thorndike belajar yang baik
harus adanya kesiapan, maka hasil belajarnya tidak akan baik. Secara praktis
hal tersebut dapat dikemukakan bahwa :
a.
Apabila
pada organisme adanya kesiapan untuk melakukan sesuatu aktivitas dan organisme
itu dapat melaksanakan kesiapannya itu, maka organisme tersebut akan mengalami
kepuasan.
b.
Apabila
organisme mempunyai kesiapan untuk melakukan sesuatu aktivitas, tetapi
organisme itu tidak dapat melakukannya, maka organisme itu akan mengalami
kekecewaan atau frustasi.
c.
Apabila
organisme itu tidak mempunyai kesiapan untuk melakukan suatu aktivitas, tetapi
disuruh melakukannya, maka hal tersebut akan menimbulkan keadaan yang tidak
memuaskan.
2.
Hukum
Latihan (The Law Exercise)
Mengenai hukum latihan oleh Thorndike
dikemukakan adanya dua aspek, yaitu
a. The
Law Of Use
Yaitu hukum yang menyatakan
bahwa hubungan atau koneksi antara stimulus dan respon akan menjadi kuat
apabila sering digunakan.
b.
The Law Of Disuse.
Yaitu hukum yang menyatakan
bahwa hubungan atau koneksi antara stimulus dan respon akan menjadi lemah
apabila tidak ada latihan.
3.
Hukum
Efek ( The Law Of Effect )
Mengenai hukum efek Thorndike
berpendapat bahwa memperkuat atau memperlemah hubungan antara stimulus dan
respon tergantung pada bagaimana hasil dari respon yang bersangkutan. Apabila
sesuatu stimulus memberikan hasil yang menyenangkan atau memuaskan, maka hubungan
antara stimulus dan respon itu akan menjadi kuat, demikian sebaliknya apabila
hasil menunjukkan hal yang tidak menyenangkan, maka hubungan antara stimulus
dan respon melemah. Dengan kata lain apabila sesuatu stimulus menimbulkan
respon yang membawa reward hubungan antara stimulus respon (S-R) menjadi kuat,
demikian sebaliknya. Hukum efek ini sebenarnya didasarkan pada hukum asosiasi
lama, yaitu hukum frekuensi dan hukum kontiguitas sebagai determinan kuat
tidaknya hubungan antara stimulus dan respon. Walaupun Thorndike menerima hukum
frekuensi dan hukum kontiguitas, namun Thorndike menambahkan bahwa konsekuensi
dari respon itu akan ikut berperan sebagai determinan kuat lemahnya asosiasi
antara stimulus dan respon (Walgito,
2010)..
Teori
asosiasi menekankan pada arti respons yang diberikan oleh organisme dan
asosiasi atau hubungan antara responden stimuli. Mereka menekankan peranan
pengalaman sebelumnya dan penguatan ( reinforcement
) respon. Ada
tiga macam asosiasi yaitu:
1. Immediate
Forward Association
Immediate
forward association
akan terjadi antara materi belajar yang berdekatan di depannya (maju ke depan)
sesuai di dalam daftar: A-B, B-C, C-D, dan sebagainya.
2.
Immediate Backward
Association
Misalnnya
terdapat satu daftar komposisi materi belajar: A-B-C-D-E-F, immediate backward association akan
terjadi antara materi belajar yang berdekatan di belakangnya (mundur
kebelakang) sesuai di dalam daftar: B-A, C-B, dan sebagainya.
3.
Remote Association
Misalnnya
terdapat satu daftar komposisi materi belajar: A–B–C–D–E-F, remote association akan terjadi diantara materi belajar yang tidak berdekatan dalam
asosiasi maju atau mundur (immediate
forward dan backward association) sesuai di dalam daftar: B-E atau D-A. Contoh:
mahasiswa matakuliah psikologi faal diminta
untuk mengingat nama-nama duabelas syaraf. Syaraf- syaraf tersebut telah
dinamai secara berurutan sebagai berikut : olfactory,
tic, oculomotor, trochlear, trigeminal, abducens, facial, stato-acoustic,
haryngeal, vagus, dan accessory. Dari daftar nama-nama tersebut, dapat
dipakai untuk menjelaskan tiga macam asosiasi, misalnya: belajar "optic" mungkin sebagai
syarat untuk "olfactory" atau "oculomotor" (immediate backward dan
forward association)
(Atkinson
& Richard, 2011)
Menurut Thorndike, faktor- faktor
yang mempengaruhi asosiasi antara lain:
1.
Adanya aktifitas atau kebiasaan yang sering dihadapi.
2.
Adanya berbagai respon terhadap berbagai stimulus.
3.
Adanya eliminasi terhadap berbagai respon yanag salah.
4.
Pengalaman-pengalaman yang pernah dialami.
5.
Konsentrasi.
6.
Belajar.
III.
HIPOTESIS
Ada
penngaruh perbedaan tipe asosiasi terhadap jumlah kata- kata yang benar.
IV.
DESAIN EKSPERIMEN
Desain
Eksperimen yang digunakan adalah two
independent group design yaitu desain eksperimen yang memberikan penugasan
yang berbeda pada dua kelompok eksperimen.
R
|
X1 Y
|
|
X2 Y
|
Keterangan:
R : Random
X1 : Perlakuan discreate free associantion
X2
: Perlakuan discreate control assoiantion
Y : Pengukuran
V.
PROSEDUR
A. Material
1.
Daftar
kata- kata sebagai stimulus (lampiran 1 dan lampiran 2)
2.
Lembar
observasi (lampiran 3)
3.
Stopwatch
B.
Prosedur
Pelaksanaan
1.
Eksperimenter
bersama dengan asisten mengundi eksperimentee, dari seluruh eksperimentee siapa
yang masuk kelompok 1 dan siapa yang masuk kelompok 2.
2.
Asisten
mengundi kelompok mana yang mendapat stimulus golongan discreate free association dan kelompok mana yang mendapat stimulus
golongan discreate controlled association.
3.
Eksperimentee
yang mendapat stimulus golongan discreate
free association dipersilahkan untuk duduk. Esperimentee yang mendapat
stimulus golongan discreate controlled
association diminta menunggu di luar ruangan.
4.
Eksperimenter
membacakan instruksi: “Tugas Anda adalah mengatakan asosiasi satu kata yang segera saudara ingat
setelah saya menyatakan satu perkataan. Saudara tidak boleh memikirkan jawaban
yang akan saudara berikan, melainkan benar- benar apa yang seketika itu timbul
dalam asosiasi saudara saja.”
5.
Eksperimenter
membaca kata- kata pada golongan discreate
free association. Eksperimenter mencatat satu kata sebagai respon
eksperimente dalam 10 detik pertama, kemudian membacakan kata selanjutnya dan
seterusnya sampai kata terakhir dalam golongan tersebut. Eksperimenter juga
mencatat observasi perilaku eksperimentee selama proses eksperimen.
6.
Eksperimentee
yang mendapat stimulus golongan discreate
free association dipersilahkan untuk menunggu diluar ruangan. Eksperimentee
yang mendapat stimuls golongan discreate
controlled association diminta untuk masuk ruangan dan dipersilahkan duduk.
7.
Eksperimenter
membacakan instruksi: “Tugas Anda adalah mengatakan asosiasi satu kata yang segera saudara ingat
setelah saya menyatakan satu perkataan. Saudara tidak boleh memikirkan jawaban
yang akan saudara berikan, melainkan benar- benar apa yang seketika itu timbul
dalam asosiasi saudara saja.”
8.
Eksperimenter
membaca kata- kata pada golongan discreate
controlled association. Eksperimenter mencatat satu kata sebagai respon
eksperimente dalam 10 detik pertama, kemudian membacakan kata selanjutnya dan
seterusnya sampai kata terakhir dalam golongan tersebut. Eksperimenter juga
mencatat observasi perilaku eksperimentee selama proses eksperimen.
9.
Ekserimentee
kemudian dipersilahkan keluar ruangan.
VI.
PENCATATAN HASIL
1.
Eksperimenter
melakukan scoring terhadap jawaban dari kedua eksperimentee. Jawaban benar
diberi skor 1, jawaban salah diberi skor 0.
2.
Eksperimenter
bersama- sama dalam satu kelompok mengumpulkan skor hasil eksperimen dari
seluruh eksperimentee.
3.
Pencatatan
hasil kelompok mengikuti table berikut
Kelompok Discreate Free Association
(A1)
|
Kelompok Discreate
Controlled Association (A2)
|
||
Eksperimentee
|
Skor
|
Eksperimentee
|
Skor
|
Annisa
|
7
|
Icha
|
17
|
Elmi
|
12
|
Eka
|
15
|
Dwi
|
19
|
Ersi
|
18
|
Rika
|
19
|
Aziz
|
18
|
Susi
|
19
|
Puji
|
19
|
Anggi
|
16
|
Nana
|
18
|
Muamil
|
17
|
Eva
|
16
|
Anung
|
19
|
Irma
|
20
|
Salsabila
|
18
|
Novita
|
20
|
Rahmad
|
19
|
Aruan
|
20
|
Pujo
|
13
|
Muhani
|
13
|
Dimas
|
17
|
Nita
|
18
|
Total
|
195
|
Total
|
212
|
VII. ANALISA HASIL
Hasil eksperimen dianalisis
dengan uji t independent sample.
Alasan menggunakan uji t karena untuk menguji perbedaan dari dua populasi yang
independent.
Independent Samples Test
|
||||||||||
Levene's
Test for Equality of Variances
|
t-test
for Equality of Means
|
|||||||||
F
|
Sig.
|
T
|
df
|
Sig.
(2-tailed)
|
Mean
Difference
|
Std.
Error Difference
|
95%
Confidence Interval of the Difference
|
|||
Lower
|
Upper
|
|||||||||
Skor
|
Equal variances assumed
|
.025
|
.877
|
-.272
|
18
|
.789
|
-.200
|
.735
|
-1.744
|
1.344
|
Equal variances not assumed
|
-.272
|
17.902
|
.789
|
-.200
|
.735
|
-1.744
|
1.344
|
|||
Berdasarkan uji t independent sample dengan software SPSS
maka diperoleh hasil t= 1.132, P(0.273) > 0,05, maka dappat disimpulkan bahwa hasilnya adalah
tidak signifikan yang artinya tidak ada pengaruh perbedaan yang signifikan
antara kelompok Discreate Free Assosiation dan kelompok Discreate Controlled
Assosiation terhadap jumlah kata – kata yang benar.
VIII. DISKUSI
Dalam percobaan ini eksperimentee
dibagi menjadi dua kelompok, yaitu discreate
free association dan discreat
controlled association. Eksperimentee kelompok discreate free association
dipersilahkan lebih dulu untuk melakukan percobaan, sedangkan kelompok
discreate controlled association diminta untuk menunggu diluar terlebih dahulu.
berdasarkan hasil analisa data yang
dilakukan dengan uji t independent sample,
maka diperoleh nilai P = 0,273. Artinya P(0,273) > 0,05 = tidak signifikan. Ketidak signifikan hasil tersebut
dikarenakan oleh faktor- faktor yang mempengaruhi asosiasi diantaranya:
1.
Adanya
aktifitas atau kebiasaan yang sering dihadapi; orang akan mudah mengingat atau
melakukan sesuatu jika sesuatu tersebut sering dilakukan.
2.
Adanya berbagai respon terhadap berbagai stimulus; respon
orang satu dengan orang lain tidak sama itu bisa dipengaruhi oleh pengalaman
individu terhadap stimulus yang didapat.
3.
Adanya stimulus terhadap berbagai respon yang salah;
orang cenderung melupakan atau mengabaikan sesuatu yang dianggap salah.
4.
Pengalaman-pengalaman yang pernah dialami; orang
cenderung dengan mudah mengasosiasi sesuatu berdasarkan pengalaman-pengalaman
yang pernah dialami.
5.
Konsentrasi; ketika seseorang dapat fokus pada suatu hal,
orang tersebut dapat dengan mudah menginterprestasikan pada hal yang difokuskan
tersebut.
6.
Belajar; orang cenderung dengan mudah mengasosiasi bila
sesuatu tersebut sudah dipelajari sebeumnya.
Jadi
bisa disimpulkan orang akan mudah melakukan asosiasi jika sebelumnya ada
pengalaman-pengalaman yang pernah dialami, contohnya dalam eksperimen ini ada
daftar kata sepeda yang harus disebut kata bagian-bagiannya, bagi orang yang
pernah melihat sepeda akan dengan mudah menyebutkan bagian dari sepeda tapi
bagi orang yang belum pernah melihat sepeda akan sulit menyebutkan bagian dari
sepeda.
IX. SIMPULAN
Berdasarkan hasil analisa data
dengan uji t independent sample diperoleh nilai P = 0,273 artinya tidak ada pengaruh
perbedaan yang signifikan antara kelompok Discreate
Free Association dan kelompok Discreate Controlled Association
terhadap jumlah kata–kata yang benar. Maka hipotesis yang menyatakan ada penngaruh perbedaan
tipe asosiasi terhadap jumlah kata- kata yang benar tidak diterima.
X.
OBSERVASI
DALAM EKSPERIMEN
1.
Eksperimentee 1: x
Selama
percobaan berlangsung eksperimentee terlihat sedikit tegang bahkan
eksperimentee sesekali menggaruk kepalanya sambil berpikir dan tersenyum.
2.
Eksperimentee 2: y
Selama
percobaan berlangsung, eksperimentee terlihat senang itu terlihat ketika
eksperimentee menjawab pertanyaan dengan sesekali tersenyum
XI. Kegunaan Sehari- hari
1.
Dalam kegunaan sehari-hari,
percobaan asosiasi dapat digunakan untuk melatih dan mempertajam daya ingat kita dengan cara mengerjakan soal Teka Teki
Silang (TTS).
2.
Dalam kegunaan sehari-hari,
percobaan asosiasi juga dapat digunakan untuk melakukan perhitungan, penjumlahan, pengurangan dan perkalian.
Yogyakarta, 24 November 2014
Eksperimenter,
Nelam Rosa
Nilai :
Asisten : Ais Noor Hidayanti
DAFTAR
PUSTAKA
Atkinson, RI dan Richard. (2011). Pengantar Psikologi. Jakarta: Penerbit Airlangga.
Crain, William. (2014). Teori Perkembangan. Pustaka Pelajar:
Yogyakarta.
Walgito, Bimo. (2014). Pengantar Psikologi Umum. Yogyakarta: Andi Offset.
Widiana, H. S & Kushartati, S. 2009. Petunjuk Praktikum Psikologi Eksperimen. Yogyakarta:
Laboraturium Psikologi Fakultas Psikologi Universitas Ahmad Dahlan.